Kesaksian Para Pemilik Mesin Beras Embrio SUGAWA

Sunday, July 21, 2013

Tanaman Padi


Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting di dalam kehidupan manusia. Tanaman ini mengacu pada jenis tanaman budidaya, namun juga memiliki beberapa jenis marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar.Di tingkat dunia, produksi padi menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Dan bagaimanapun juga, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia, yang hasil dari pengolahan padi kita sebut beras. Istilah yang sangat tidak asing bagi penduduk negara Indonesia.
Kerajaan:Plantae
Divisi: Magnoliophyta
(tidak termasuk)Monocots
(tidak termasuk)Commelinids
Ordo: Poales
Famili: Poaceae
Genus: Oryza
Spesies:Oryza sativa
Padi termasuk dalam suku padi-padian atau Poaceae (sinonim: Graminae atau Glumiflorae).

Ciri2 Umum Tanaman
Padi: merupakan tanaman semusim; akar serabut; batang sangat pendek; struktur serupa batang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang; daun sempurna dengan pelepah tegak; daun berbentuk lanset; warna hijau muda hingga hijau tua; berurat daun sejajar; tertutupi oleh rambut yang pendek dan jarang; bunga tersusun majemuk, tipe malai bercabang; satuan bunga disebut floret; yang terletak pada satu spikelet yang duduk pada panikula; buah tipe bulir atau kariopsis yang tidak dapat dibedakan mana buah dan bijinya; bentuk hampir bulat hingga lonjong; ukuran 3 mm hingga 15 mm; tertutup oleh palea dan lemma yang dalam bahasa sehari-hari disebut sekam; struktur dominan adalah endospermiumyang biasa kita konsumsi dalam wujud beras .
Penyebaran dan adaptasi
Padi budidaya diperkirakan berasal dari daerah lembah Sungai Gangga dan Sungai Brahmaputra dan dari lembah Sungai Yangtse. Di Afrika, padi Oryza glaberrima ditanam di daerah Afrika barat tropika.Padi pada saat ini tersebar luas di seluruh dunia dan tumbuh di hampir semua bagian dunia yang memiliki cukup air dan suhu udara cukup hangat. Padi menyukai tanah yang lembab dan becek. Sejumlah ahli menduga, padi merupakan hasil evolusi dari tanaman moyang yang hidup di rawa. Pendapat ini berdasar pada adanya tipe padi yang hidup di rawa-rawa (dapat ditemukan di sejumlah tempat di Pulau Kalimantan), kebutuhan padi yang tinggi akan air pada sebagian tahap kehidupannya, dan adanya pembuluh khusus di bagian akar padi yang berfungsi mengalirkan oksigen ke bagian akar.
Reproduksi
Tiap bunga padi memiliki enam kepala sari (anther) dan kepala putik (stigma) bercabang dua berbentuk sikat botol. Kedua organ seksual ini umumnya siap reproduksi dalam waktu yang bersamaan. Kepala sari kadang-kadang keluar dari palea dan lemma jika telah masak. Dari segi reproduksi, padi merupakan tanaman berpenyerbukan sendiri, karena 95% atau lebih serbuk sari membuahi sel telur tanaman yang sama. Setelah pembuahan terjadi, zigot dan inti polar yang telah dibuahi segera membelah diri. Zigot berkembang membentuk embrio dan inti polar menjadi endospermia. Pada akhir perkembangan, sebagian besar bulir padi mengadung pati di bagian endospermia. Bagi tanaman muda, pati berfungsi sebagai cadangan makanan.
Genetika, dan perbaikan varietas
Satu set genom padi terdiri dari 12 kromosom. Karena padi adalah tanaman diploid, maka setiap sel padi memiliki 12 pasang kromosom (kecuali sel seksual).Padi merupakan organisme model dalam kajian genetika tumbuhan karena dua alasan: kepentingannya bagi umat manusia dan ukuran kromosom yang relatif kecil, yaitu 1.6~2.3 × 108 pasangan basa (base pairs, bp) (Sumber: situs Gramene.org). Sebagai tanaman model, genom padi telah disekuensing, seperti juga genom manusia. Hasil sekuensing genom padi dapat dilihat di situs NCBI.Pemuliaan padi telah berlangsung sejak manusia membudidayakan padi. Dari hasil tindakan ini orang mengenal berbagai macam ras lokal padi, seperti rajalele dari Klaten atau cianjur pandanwangi dari Cianjur. Orang juga berhasil mengembangkan padi lahan kering (padi gogo) yang tidak memerlukan penggenangan atau padi rawa, yang mampu beradaptasi terhadap kedalaman air rawa yang berubah-ubah. Di negara lain dikembangkan pula berbagai tipe padi (lihat bagian Keanekaragaman padi).
Namun demikian, pemuliaan padi secara sistematis baru dilakukan sejak didirikannya IRRI di Filipina. Sejak saat itu, berbagai macam tipe padi dengan kualitas berbeda-beda berhasil dikembangkan secara terencana untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia.Pada tahun 1960-an pemuliaan padi diarahkan sepenuhnya pada peningkatan hasil. Hasilnya adalah padi ‘IR5′ dan ‘IR8′ (di Indonesia diadaptasi menjadi ‘PB5′ dan ‘PB8′). Walaupun hasilnya tinggi tetapi banyak petani menolak karena rasanya tidak enak (pera). Selain itu, terjadi wabah hama wereng coklat pada tahun 1970-an. Puluhan ribu persilangan kemudian dilanjutkan untuk menghasilkan kultivar dengan potensi hasil tinggi dan tahan terhadap berbagai hama dan penyakit padi. Pada tahun 1984 Indonesia pernah meraih penghargaan dari PBB (FAO) karena berhasil meningkatkan produksi padi hingga dalam waktu 20 tahun dapat berubah dari pengimpor padi terbesar dunia menjadi negara swasembada beras. Prestasi ini, sayangnya, tidak dapat dilanjutkan. Saat ini Indonesia kembali menjadi pengimpor padi terbesar di dunia.Hadirnya bioteknologi dan rekayasa genetika pada tahun 1980-an memungkinkan perbaikan kualitas nasi. Sejumlah tim peneliti di Swiss mengembangkan padi transgenik yang mampu memproduksi toksin bagi hama pemakan bulir padi dengan harapan menurunkan penggunaan pestisida.
IRRI bekerja sama dengan beberapa lembaga lain, merakit “padi emas” (golden rice) yang dapat menghasilkan pro-vitamin A pada berasnya, yang diarahkan bagi pengentasan defisiensi vitamin A di berbagai negara berkembang. Suatu tim peneliti dari Jepang juga mengembangkan padi yang menghasilkan toksin bagi bakteri kolera[1]. Diharapkan beras yang dihasilkan padi ini dapat menjadi alternatif imunisasi kolera, terutama di negara-negara berkembang.Sejak penghujung abad ke-20 dikembangkan padi hibrida, yang memiliki potensi hasil lebih tinggi. Karena biaya pembuatannya tinggi, kultivar jenis ini dijual dengan harga lebih mahal daripada kultivar padi yang dirakit dengan metode lain.Selain perbaikan potensi hasil, sasaran pemuliaan padi mencakup pula tanaman yang lebih tahan terhadap berbagai organisme pengganggu tanaman (OPT) dan tekanan (stres) abiotik (seperti kekeringan, salinitas, dan tanah masam). Pemuliaan yang diarahkan pada peningkatan kualitas nasi juga dilakukan, misalnya dengan perakitan kultivar mengandung karoten (provitamin A).
Keanekaragaman genetik
Sampai saat ini ada dua spesies padi yang dibudidayakan manusia secara massal, yaitu Oryza sativa yang berasal dari Asia dan O. glaberrima yang berasal dari Afrika Barat.Pada awal mulanya O. sativa dianggap terdiri dari dua subspesies, indica dan japonica (sinonim sinica). Padi japonicaumumnya berumur panjang, postur tinggi namun mudah rebah, lemmanya memiliki “ekor” atau “bulu” (Ing. awn), bijinya cenderung membulat, dan nasinya lengket. Padi indica, sebaliknya, berumur lebih pendek, postur lebih kecil, lemmanya tidak ber-”bulu” atau hanya pendek saja, dan bulir cenderung oval sampai lonjong. Walaupun kedua anggota subspesies ini dapat saling membuahi, persentase keberhasilannya tidak tinggi. Contoh terkenal dari hasil persilangan ini adalah kultivar ‘IR8′, yang merupakan hasil seleksi dari persilangan japonica (kultivar ‘Deegeowoogen‘ dari Formosa) dengan indica (kultivar ‘Peta’ dari Indonesia). Selain kedua varietas ini, dikenal varietas minor javanica yang memiliki sifat antara dari kedua tipe utama di atas. Varietas javanica hanya ditemukan di Pulau Jawa.
Kajian dengan bantuan teknik biologi molekular sekarang menunjukkan bahwa selain dua subspesies O. sativa yang utama, indica dan japonica, terdapat pula subspesies minor tetapi bersifat adaptif tempatan, seperti aus(padi gogo dari Bangladesh), royada (padi pasang-surut/rawa dari Bangladesh), ashina (padi pasang-surut dari India), dan aromatic (padi wangi dari Asia Selatan dan Iran, termasuk padi basmati yang terkenal). Pengelompokan ini dilakukan menggunakan penanda RFLP dibantu dengan isozim.  Kajian menggunakan penanda genetik SSR terhadapgenom inti sel dan dua lokus pada genom kloroplas menunjukkan bahwa pembedaan indica dan japonica adalah mantap, tetapi japonica ternyata terbagi menjadi tiga kelompok khas: temperate japonica (“japonica daerah sejuk” dari Cina, Korea, dan Jepang), tropical japonica (“japonica daerah tropika” dari Nusantara), dan aromatic. Subspesies aus merupakan kelompok yang terpisah. Berdasarkan bukti-bukti evolusi molekular diperkirakan kelompok besar indica dan japonica terpisah sejak ~440.000 tahun yang lalu dari suatu populasi spesies moyang O. rufipogon. Domestikasi padi terjadi di titik tempat yang berbeda terhadap dua kelompok yang sudah terpisah ini. Berdasarkan bukti arkeologi padi mulai dibudidayakan (didomestikasi) 10.000 hingga 5.000 tahun sebelum masehi.

Keanekaragaman Budidaya Padi
Padi Gogo
Di beberapa daerah tadah hujan orang mengembangkan padi gogo, salah satu tipe padi lahan kering yang relatif toleran tanpa penggenangan air seperti di sawah. Wilayah Lombok mengembangkan sistem padi gogo rancah, yang memberikan penggenangan dalam selang waktu tertentu sehingga hasil padi meningkat.
Pengolahan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Gogo
1. Penyiapan lahan
Pengolahan tanah dilakukan pada musim kemarau menjelang datangnya musim hujan.• Pengolahan tanah diperlukan untuk menciptakan kondisi tumbuh yang baik. Pada tanah datar sampai kemiringan kurang dari 5%, pengolahan tanah dicangkul (bajak) 2 kali dan satu kali garu.• Pada lahan dengan kemiringan lebih dari 15%, pengolahan tanah sederhana (minimum tillage) atau tanpa olah tanah (TOT).
2. Pemilihan varietas
Pemilihan varietas padi gogo didasarkan pada : 1) kesesuaian terhadap lingkungan tumbuh (ketinggian dan iklim), 2) umur tanaman berkaitan dengan curah hujan dan pola tanam, 3) ketahanan hama penyakit dan 4) produktivitas.• Pilihan varietas adalah: situ gintung, gajah mungkur, kalimutu, way rarem, jatiluhur, cirata,towuti, limboto, danau gaung, batu tegi, situ patenggang dan situ bagendit.
3. Tanam
Penanaman dilakukan pada awal musim hujan (Oktober – November) bila terdapat 1 – 3 hari hujan berturut-turut dengan curah hujan 21 mm/minggu. • Tanam sistim alur, lahan yang telah dipersiapkan dibuat alur sedalam 3-4 cm dengan jarak antara alur 20-25 cm. Benih disebar secara diicir, kemudian alur ditutup kembali dengan tanah.• Sistem tanaman tugal dengan kedalaman 3-5 cm dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm, kemudian 2 – 3 butir benih dimasukkan ke dalam setiap lubang tanam dan ditutup kembali dengan tanah.• Kebutuhan benih 30 – 50 kg/ha.• Apabila kelembaban tanah cukup, benih sebaiknya direndam sekitar 24 jam
4. Pemupukan
Dosis pupuk yang diberikan disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah.• Dosis pupuk N berkisar 300-400 kg urea/ha yang diberikan 2 atau 3 kali, yaitu 1/3 bagian pada pada umur 15 hari, 1/3 bagian pada stadia anakan ( 30-40 hari setelah sebar), 1/3 bagian pada saat menjelang primordia (50-60 hari setelah sebar) atau 1/3 bagian pada stadia anakan dan 2/3 bagian pada saat menjelang primordia.• Pupuk Fosfor (P) dan Kalium (K) diberikan pada saat tanam, dengan dosis 100-150 kg SP-36/ha dan 100 kg KCI/ha.• Pupuk kandang dengan dosis sekitar 5 ton/ha, diberikan pada saat pengolahan tanah
5. Pengendalian gulma
Penyiangan dilakukan seawal mungkin.• Penyiangan pertama dilakukan pada umur 14-21 hari setelah sebar (HSS) dan penyiangan kedua pada umur 35-40 HSS.• Penyiangan secara manual menggunakan cangkul atau kored, bila memungkinkan penyiangan dapat dibantu dengan penyemprotan herbisida (propanil).
6. Pengendalian Hama dan Penyakit
Beberapa hama dan penyakit utama yang menganggu pertanaman padi gogo, antara lain: blast, bercak daun, lalat bibit, tundi, wereng coklat, dan walang sangit. Penyakit blast disebabkan oleh jamur (Pyricularia oryzae), gejala serangan adalah bercak daun berbentuk belah ketupat, menyerang buku-buku dan malai, sehingga terjadi patah, batang atau busuk malai, pengendaliannya adalah sebagai berikut:• Pemupukan berimbang, hindarkan pemupukan N yang berlebihan, pupuk K dapat mengurangi keparahan serangan penyakit.• Menanan varietas toleran • Menggunakan fungisida
7. Panen dan Penanganan Hasil
Pemanenan tanaman dilakukan bila gabah telah menguning sekitar 90% atau pada umur 30-35 hari setelah berbunga tergantung varietas. • Perontokan menggunaaan alat perontok, minimal pedal tresher sederhana. Diusahakan kehilangan hasi sekecil mungkin dengan cara pengumpulan batang padi segera setelah disabit, pengangkutan dan tempat penyimpanan yang baik.• Gabah disimpan pada kadar air + 12 % (bila gabah digigit terasa keras dan berbunyi) dengan menggunakan wadah yang bersih dan bersih dan bebas hama.• Untuk mendapatkan mutu giling dan rendemen beras yang baik, diusahakan: (1) gabah harus seragam dan bersih, (2) gabah yang baru dikeringkan harus diangin-anginkan agar beras tidak pecah dan (3) sebelum digiling beras yang baru disimpan harus dijemur untuk menyeragamkan kadar airnya.

Padi Rawa
Padi rawa atau padi pasang surut tumbuh liar atau dibudidayakan di daerah rawa-rawa. Selain di Kalimantan, padi tipe ini ditemukan di lembah Sungai Gangga. Padi rawa mampu membentuk batang yang panjang sehingga dapat mengikuti perubahan kedalaman air yang ekstrem musiman.
Padi Rawa, Potensi Pengembangan Padi yang Menjanjikan
Pengembangan budi daya padi di lahan non irigasi perluditingkatkan. Lahan rawa merupakan salah satu lahannon irigasi yang berpotensi untuk dikembangkanterutama dengan komoditas padi. Lahan rawa diIndonesia tersebar pada empat pulau besar, yaituSumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Lahanrawa terdiri dari lahan pasang surut dan lahan lebak.Pemanfaatan lahan rawa pasang surut dan lebakuntuk usaha tani padi membutuhkan ketersediaanvarietas unggul yang mampu beradaptasi dengan baikpada lahan tersebut. Kendala utama peningkatanproduksi padi di lahan lebak adalah tata air.
Bila memasuki musim hujan, kondisi lahan lebak selalu tergenangair. Kedalaman genangan air sangat bervariasi, mulaidari beberapa cm hingga lebih dari satu meter. Kondisisebaliknya terjadi saat lahan lebak memasuki musimkemarau. Kendala lain yang dihadapi adalah kesuburantanah rendah, kemasaman tanah, keracunan dandefisiensi hara.Pengembangan budi daya padi juga menghadapihambatan berupa perubahan iklim global. Perubahan iklimglobal mengakibatkan adanya pergeseran musim sertaterjadinya iklim yang ekstrim, seperti terjadi kekeringandan kebanjiran. Untuk itu diperlukan varietas padi yangtoleran terhadap kondisi iklim yang ekstrim tersebut.Inovasi teknologi Varietas Unggul Baru (VUB) untukantisipasi perubahan iklim antara lain Inpara 1 sampaidengan Inpara 5. Untuk informasi Inpara lebih jelas klik link ini.
Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan cara pendekatan yang bersifat holistik sehingga dapat meningkatkan produktivitas maupun pendapatan petani karena lebih efektif dan lebih efisien serta sifatnya lumintu.
Pendekatan PTT
1. Memanfaatkan paket teknologi anjuran yang terdiri dari komponen komponen teknologi yang sinergis dan kompatibel sesamanya sehingga kalau diterapkan bisa lebih efisien dan lebih efektif untuk meningkatkan produksi padi rawa pasang surut
2. Pemilihan dan penerapan teknologi didasarkan pada pemecahan permasalahan setempat yang sedang dihadapi petani
3. Dengan PTT, input teknologi lebih efisien dalam peningkatan produksi padi sehingga pendapatan dan kesejahteraan petani bertambah
4. Kelestarian lingkungan lebih lumintu karena teknologi yang diterapkan lebih terkendali sehingga lebih ramah lingkungan.
Komponen Teknologi PTT
Berbeda halnya dengan sawah lahan irigasi, sawah lahan pasang surut mempunyai masalah yang sangat kompleks , sehingga keragaan pertumbuhan tanaman padi juga beraneka ragam, misalnya : daun padi mempunyai bercak kecil berwarna coklat (bercak karat) yang dimulai dari ujung daun, pertumbuhan dan pembentukan anakan tertekan, daun meruncing dan berwarna hijau gelap, perakaran kasar, jarang dan berwarna coklat gelap dan hasil padi rendah.

Keanekaragaman Tipe Beras beras-indonesia
Terdapat beberapa jenis beras. Pengkategorian tersebut antara lain:
Padi pera
Padi pera adalah padi dengan kadar amilosa pada pati lebih dari 20% pada berasnya. Butiran nasinya jika ditanak tidak saling melekat. Lawan dari padi pera adalah padi pulen. Sebagian besar orang Indonesia menyukai nasi jenis ini dan berbagai jenis beras yang dijual di pasar Indonesia tergolong padi pulen. Penggolongan ini terutama dilihat dari konsistensi nasinya
Ketan
Ketan (sticky rice), baik yang putih maupun merah/hitam, sudah dikenal sejak dulu. Padi ketan memiliki kadar amilosa di bawah 1% pada pati berasnya. Patinya didominasi oleh amilopektin, sehingga jika ditanak sangat lekat
Padi wangi
Padi wangi atau harum (aromatic rice) dikembangkan orang di beberapa tempat di Asia, yang terkenal adalah ras ‘Cianjur Pandanwangi’ (sekarang telah menjadi kultivar unggul) dan ‘rajalele’. Kedua kultivar ini adalah varietas javanica yang berumur panjang.Di luar negeri orang mengenal padi biji panjang (long grain), padi biji pendek (short grain), risotto, padi susu umumnya menggunakan metode silsilah. Salah satu tahap terpenting dalam pemuliaan padi adalah dirilisnya kultivar ‘IR5′ dan ‘IR8′, yang merupakan padi pertama yang berumur pendek namun berpotensi hasil tinggi. Ini adalah awal revolusi hijau dalam budidaya padi. Berbagai kultivar padi berikutnya umumnya memiliki ‘darah’ kedua kultivar perintis tadi.

Varietas Unggul Padi Baru
Varietas unggul merupakan salah satu komponen paket teknologi budidaya padi yang secara nyata dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Pada tahun 2008 Balai Besar Penelitian Tanaman Padi telah melepas 6 varietas INPARI (INPARI 1-6), dan 3 Varietas INPARA (INPARA 1-3).
Inbrida Padi Irigasi, atau lebih dikenal dengan INPARI adalah varietas-varietas unggul baru padi sawah yang cocok ditanam di lahan sawah irigasi, sedangkan Inbrida Padi Rawa (INPARA) adalah varietas-varietas unggul padi yang baik dibudidayakan pada kondisi lahan rawa, tahan terhadap rendaman, serta daya adaptasi pada kondisi lahan masam.
INPARI :
1. INPARI 1
Varietas ini dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 952/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008. Ciri-ciri varietas ini bentuk tanaman tegak, dengan tinggi tanaman 93 cm, jumlah anakan produktif mencapai 16 anakan, dan tekstur nasi pulen. Keunggulan varietas ini adalah ketahanan terhadap wereng batang coklat biotipe 2, serta agak tahan terhadap wereng coklat biotipe 3, selain itu varietas INPARI 1 mempunyai ketahanan terhadap penyakit Hawar Daun Bakteri, serta tahan rebah. Umur tanaman yang relatif pendek (108 hari) adalah keunggulan lain dari varietas ini. Yang paling penting dari suatu varietas unggul adalah potensi produksi yang cukup tinggi, rata-rata produksi varietas INPARI 17,32 ton/ha Gabah Kering Giling (GKG) serta mempunyai potensi produksi 10 ton/ha GKG.
2. INPARI 2
Varietas INPARI 2 termasuk golongan cere, dengan umur tanaman 115 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 85-95 cm, dengan jumlah anakan 15 anakan. Potensi hasil Varietas ini adalah 7,30 ton/ha dengan rata-rata hasil 5,83 ton/ha. Varietas ini cocok ditanam di ekosistem sawah dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl. Varietas INPARI 2 agak tahan terhadap hama wereng batang coklat, penyakit hawar daun bakteri, penyakit virus tungro. Varietas ini dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 951/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008.
3. INPARI 3
Varietas INPARI 3 cocok ditanam pada lahan irigasi dengan ketinggian sampai 600 m dpl. Varietas ini termasuk dalam golongan cere, dengan umur tanaman 110 hari. Potensi hasil varietas yang dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 953/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008 ini mencapai 7,52 ton/ha dengan rata-rata hasil 6,05 ton/ha. Varietas ini tahan terhadap hama wereng batang coklat dan agak tahan terhadap penyakit Hawar daun bakteri, dan penyakit virus tungro inokulum variasi 073, 013 dan 031.
4. INPARI 4
Tidak begitu berbeda dengan Varietas INPARllainnya, INPARI4 juga memiliki ketahanan terhadap ham a . wereng batang coklat, dan agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri, serta agak tahan penyakit virus tungro inokulum varian 073 dan 031. Potensi hasil 8,80 ton/ha dengan rata-rata hasil 6,04 ton/ha. Varietas ini termasuk dalam golongan cere dengan umur tanaman 115 hari, tinggi tanaman 95-105 cm, dan 16 jumlah anakan. Varietas INPARI4 dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 954/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17Juli 2008.
5. INPARI 5 MERAWU
Varietas INPARI 5 dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 955/Kpts/SR.120/7/2008 tanggal 17 Juli 2008. Varietas ini termasuk golongan cere, dengan umu! tanaman 115 hari, tinggi tanaman 100-105 cm, dan jumlah anakan 15 anakan. Varietas INPARI 5 agak rentan terhadap hama wereng batang coklat Biotipe I, 2, dan 3, tetapi varietas ini agak tahan terhac:lap penyakit hawar daun bakteri, dan penyakit virus tungro inokulum varian 073 dan 031. Padaumumnya varietas . INPARI 5 cocok ditanam pad a lahan irigasi dengan ketinggian sampai dengan 600 m dpl.
6. INPARI 6 JETE
Termasuk golongan cere indica dengan umur tanaman 118 hari, tinggi tanaman 100 cm, jumlah anakan 15 batang. INPARI 6 memiliki tekstur nasi sangat pulen dengan kadar amilosa 18 %. Potensi produksi varietas INPARI 6 produktivitas 8,60 ton/ha GKG; 12 ton/ ha GKG. Varietas ini tahan rebah, serta tahan terhadap hama wereng batang coklat biotipe 2 dan 3 serta tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain III, IV dan strain VIII. Varietas INPARI 6 JETE diiepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 956/ Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008.

INPARA
1. INPARA I
Varietas INPARA I termasuk dalam golongan Cere Indica, dengan umur tanaman 131 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 111 cm, jumlah anakan produktif varietas INPARA I dapat mencapai 18 anakan. Apabila ditanam pada kondisi lahan rawa lebak rata-rata hasil dapat mencapai 5,65 ton/ha, sedangkan apabila ditanam pada kondisi lahan rawa pasang surut rata-rata hasllnya lebih rendah yaitu 4,45 ton/ha. Varietas INPARA I memiliki potensi hasil cukup tinggi yaitu 6,47 ton/ha. Lahan rawa, baik rawa lebak maupun rawa pasang surut umumnya mengandung Fe dan Al cukup tinggi, kedua unsur ini apabila dalam kondisi banyak dapat menyebabkan keracunan pada tanaman. Varietas INPARA I memiliki toleransi keracunan Fe dan Al serta agak tahan terhadap serangan wereng batang coklat Biotipe 1 dan 2, serta tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri dan bias. Varietas ini cocok ditanam di daerah rawa lebak dan rawa pasang surut. Varietas INPARA I dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor. 957/ Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008.
2. INPARA 2
INPARA 2 merupakan varietas yang termasuk dalam golongan cere indica, varietas ini agak tahan terhadap wereng batang coklat Biotipe 2 serta tahan terhadap hawar daun dan blass, serta memiliki toleransi terhadap keracunan Fe dan Al. INPARA 2 baik ditanam pada lahan pasang surut dan lahan rawa lebak. Ciri dari varietas ini adalah umur tanaman 128 hari, bentuk tanaman tegak, ketahanan terhadap rebah sedang, tinggi tanaman 103 cm dengan jumlah anakan produktif mancapai 16 batang. Potensi hasil INPARA 2 mencapai 6,08 ton/ha dengan rata-rata hasil pada lahan rawa lebak 5,49 ton/ha, dan pada lahan rawa pasang surut 4,82 ton/ha. Varietas INPARA 2 dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor. 958/Kpts/SR.120/7!2008 tanggal 17Juli 2008.
3. INPARA 3
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor. 960/Kpts/SR.120/7I2008 Tanggal 17 Juli 2008 Varietas INPARA 3 dilepas. INPARA 3 agak toleran rendaman selama 6 hari pada fase vegetatif, agak toleran keracunan Fe dan Al, baik ditanam di daerah rawa lebak, rawa pasang surut potensial dan di sawah irigasi yang rawan terhadap banjir. Varietas INPARA 3 termasuk dalam golongan cere indica, tekstur nasi pera, dengan umur tanaman 127 hari, tinggi tanaman 108 cm, bentuk tanaman tegak, dengan jumlah anakan produktif 17 anakan. Potensi hasil INPARA 3 mancapai 5,6 ton/ha, dengan rata-rata hasil 4,6 ton/ ha GKG.
Peran Penyuluh Pertanian di lapangan. Berkaitan dengan telah dilepaskannya varietas baru tersebut, maka penyuluh pertanian perlu mencari tahu, mencoba, dan menginformasikan kepada petani varietas-varietas yang cocok dan menguntungkan di wilayah kerjanya.–end.
 sumber :http://padidankelapa.wordpress.com

No comments:

Post a Comment

SEBARKAN INFORMASI INI