Kesaksian Para Pemilik Mesin Beras Embrio SUGAWA

Thursday, December 12, 2013

Fakta tentang Beras Putih


Kesehatan kita dipengaruhi oleh banyak hal seperti pola makan, jadwal istirahat, aktivitas pekerjaan, olahraga, stress dan lain-lain. Dari seluruh faktor yang mempengaruhi kesehatan tersebut, ternyata pola makan memegang kontribusi yang dominan dan sangat penting untuk diprioritaskan. Pola makan yang baik meliputi frekuensi makan, jenis makanan, jumlah kalori dari makanan, cara makan dan tentu saja gizi yang terkandung dalam makanan tersebut. 


Setiap benua memiliki perbedaan tradisi dalam pola makan, dan biasanya makanan utama/makanan pokok dari setiap negara berbeda. Ada yang berasal dari gandum, ubi-ubian, jagung, padi, sagu, dan sebagainya. Negara kita dikenal dengan makanan pokoknya , yaitu nasi, yang berasal dari beras.

Namun, beberapa tahun terakhir banyak sekali bermunculan jutaan artikel di media maupun internet membahas kelemahan dan kekurangan dari makanan pokok bangsa Indonesia. Beras dan nasi dituding menjadi pemicu dari salah satu gejala penyakit yang mematikan di dunia , yaitu kencing manis (diabetes). Kencing manis divonis sebagai dalang dari berbagi komplikasi penyakit mematikan seperti serangan jantung, gagal ginjal, stroke, kemandulan, katarak, dan masih  banyak lagi. Bangsa Indonesia dinilai memiliki penderita kencing manis terbanyak di dunia karena setiap hari rajin mengkonsumsi beras/nasi. 

Beberapa artikel memuat bahaya nasi putih yang terkait dengan kencing manis , antara lain: 
http://health.kompas.com/read/2012/03/16/11184138/Nasi.Putih.Tingkatkan.Risiko.Diabetes

Sebelum kita menyetujui tudingan bahwa makanan pokok kita adalah sumber penyakit, ada baiknya kita mengkritisi beberapa hal berikut : 
  1. Benarkah leluhur kita meninggalkan sesuatu yang berbahaya bagi kita semua? Tegakah mereka meneruskan tradisi yang membawa petaka bagi generasi berikutnya?
  2. Benarkah beras dan nasi adalah sumber penyebab diabetes? Bila benar demikian, kenapa orang Jepang yang juga makanan pokoknya beras merupakan bangsa yang paling sedikit terkena diabetes?
  3. Kalo memang beras/nasi menyebabkan kencing manis, kenapa penderita kencing manis sekitar 20 - 50 tahun lalu tidak sebanyak sekarang? Bukankah tradisi makan nasi tidak pernah berubah sejak dulu?
Jika memang beras/nasi yang kita makan sama dengan beras dahulu, harusnya dampaknya sama sejak dulu, artinya penderita diabetes di indonesia harusnya saat ini sudah jauh lebih banyak lagi.  Padahal maraknya pengidap diabetes di Indonesia terlihat peningkatan signifikan baru dalam 20 tahun terakhir.


Mari kita perhatikan beberapa kenyataan berikut :

Beras jaman dahulu punya banyak karakteristik yang berbeda dengan beras saat ini. Tanyakanlah hal ini kepada orang di keluarga kita yang hidup paling tidak mengalami era sebelum tahun 1990. Perubahan fisik pada beras tidak terjadi secara mendadak, melainkan secara perlahan-lahan sehingga tidak terdeteksi dan proses yang panjang ini berlangsung tanpa kita sadari dalam 20 tahun terakhir. Setidaknya secara fisik, ada 3 perbedaan mencolok antara beras dahulu dan beras sekarang.
  1. Warna. Dulu warna beras bukanlah putih, melainkan agak krem/coklat dan pekat seperti susu. Jika kita bandingkan dengan beras saat ini cenderung warnanya putih agak transparan dan sedikit mengkilat. Beras jaman dahulu bila dilihat terkesan agak tidak rata warnanya karena ujungnya terdapat embrio / tunas/ lembaga /menir (bahasa Jawa) yang seperti susu, sedangkan beras sekarang warnanya rata dan ujungnya cekung krn telah kehilangan embrio tersebut.
  2. Tekstur. Tekstur beras dahulu bila dipegang akan berasa seperti sedikit bertepung dan agak kesat, sedangkan beras sekarang terasa keras, licin dan bersih. 
  3. Konten. Bila dijatuhkan ke lantai atau permukaan yang keras, beras jaman dahulu akan relatif memantul lebih rendah, sedangkan beras jam sekarang relatif akan memantul lebih tinggi antara 2-3 kali lipat pantulan beras jaman dahulu. 



BEBERAPA EKSPERIMEN YANG ANDA BISA LAKUKAN SENDIRI DI RUMAH
  1. Beli beras mentah kemudian tanam ke tanah di rumah dan sirami setiap hari, maka yang terjadi adalah bbrpa hari kemudian beras tersebut akan tumbuh. Inilah yang disebut dengan beras hidup. Bersamaan dengan itu tanamlah beras putih yang biasa anda makan setiap hari di sebelah beras mentah tersebut dan lakukan hal yang sama, hasilnya tidak akan ada yang tumbuh. (Lihat Hasil Eksperimen)
  2. Carilah mangga yang belum matang 2 buah, dan masukkan satu ke dalam tempat beras mentah (dipendam) dan pendamlah mangga yang lain di dalam tempat beras putih. Tunggulah bbrp hari kemudian perhatikan apa yang terjadi pada kedua mangga tersebut. Mangga yang dipendam dalam beras mentah akan masak/matang dan manis. Mangga yang dipendam dalam tempat beras putih akan lebih mentah dan berbeda rasanya, beberapa mungkin busuk.
  3. Celupkan tangan Anda ke dalam tumpukan beras mentah  dan celupkan sebelah tangan anda ke dalam tumpukan beras putih. Rasakanlah hawanya, maka tangan yang dipendam dalam beras mentah akan terasa lebih hangat daripada yang di dalam beras putih. Artinya beras mentah atau beras embrio memiliki energi karena masih hidup
  4. Cucilah beras mentah, dan siramkan air cuciannya ke tanaman Anda setiap hari , perhatikan pertumbuhan bunganya dalam 1-2 minggu (terutama pada tanaman yang mudah berbunga seperti mawar). Bandingkan bila Anda menyiramkan air cucian beras putih. Yang disiram dengan air cucian beras embrio akan tumbuh subur, yang disiram dengan cucian air beras putih tidak akan banyak perubahan, bahkan mungkin akan terjadi beberapa proses penjamuran

Mengapa beras dahulu berbeda dengan sekarang ?
  • Persepsi masyarakat yang menganggap beras yang putih adalah beras yang baik karena terlihat bersih, mengkilap
  • Gaya hidup praktis, lebih suka menumpuk beras dalam waktu lama dan bebas kutu
  • Populasi yang meningkat cepat membuat produksi beras putih berskala masa dan harus tahan lama.
Hal ini mengakibatkan beras mengalami transformasi menjadi bentuk seperti sekarang (putih, bersih, bebas kutu, tahan lama) demi mengikuti permintaan pasar / market. Untuk mendapatkan beras putih dipergunakanlah berbagai macam cara yang terkadang sangat berbahaya untuk kesehatan. Beberapa zat kimia yang diduga dapat dicampuran dalam beras ketika dalam penggilingan antara lain : anti jamur , pemutih, zat kapur, dan pengawet.





Beberapa artikel tentang beras yang dicampuri zat kimia :
http://www.resepbunda.biz/2012/02/03/memilih-beras-baik-aman-untuk-dikonsumsi-dari-catering-bandung-resep-bunda/
http://kumpulanartikelbersama.blogspot.com/2011/12/bahaya-dan-tips-deteksi-beras.html
http://my.opera.com/indatyas/blog/waspada-zat-pemutih-pada-beras
http://www.resep.web.id/tips/inilah-5-tips-agar-terhindar-dari-bahaya-beras-mengandung-arsenik.htm
http://kamianakpangan.blogspot.com/2009/09/fenomena-beras-berpemutih.html
http://ayok.wordpress.com/2007/09/03/82-persen-penggilingan-padi-di-jabar-gunakan-klorin/
http://zoewarck.blogspot.com/2011/10/bahaya-beras-berpemutih.html
https://www.google.com/searchbiw=1366&bih=681&q=beras+berpengawet&oq=beras+berpen&gs_l=serp.1.0.0i30j0i5i30.14318.17785.0.20349.14.13.1.0.0.0.159.1697.3j10.13.0...0.0...1c.1.11.serp.RTvgL9WQkDM
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=293446


Konsumsi Beras Mentah sebagai Alternatif

Beberapa waktu terakhir cukup banyak orang yang mulai mengkonsumsi beras mentah (beras coklat, beras merah, beras hitam) sebagai alternatif mengurangi konsumsi beras putih. Praktisi kesehatan dan nutrisionis pun mulai menganjurkan kepada para pasien dan klien agar mengganti konsumsi beras putih dengan bahan makanan lain seperti kentang, beras merah, beras hitam, umbi-umbian, dan sebagainya. Semua alternatif dianjurkan dengan tujuan mengurangi indeks glikemi (gula) dalam makanan. Mengkonsumsi makanan dengan indeks glikemi yang lebih rendah membantu mengurangi resiko penyakit kencing manis.


Beras mentah memang memiliki keunggulan dari sisi kesehatan, namun ada beberapa masalah yang terdapat pada beras mentah, sehingga cukup banyak orang yang menghentikan konsumsi beras mentah dan kembali mengkonsumsi beras putih. Tekstur beras mentah keras dan sulit menyatu dengan lauk menyebabkan rasanya tidak sedap di mulut.  Memasak beras mentah pun juga harus menggunakan tehnik khusus yaitu dengan merendamnya semalaman sebelum dimasak atau memasaknya dengan air yang lebih banyak.  


Konsumsi beras mentah juga akan memberikan masalah baru bagi pencernaan karena kandungan asam fitat (phytic acid) yang terdapat pada kulit ari beras. Asam fitat ini akan menghambat penyerapan vitamin, mineral, serat dan kandungan gizi dalam beras. Artinya, seandainya pun beras mentah berhasil dikonsumsi, kandungan gizinya juga tidak pernah terserap maksimal karena keberadaan asam fitat. 


 KESIMPULAN :

Bangsa Indonesia makan beras yang sama sejak jaman dahulu hingga sekarang. Perbedaannya adalah bangsa Indonesia sekarang mengolah beras hingga menjadi nasi dengan cara yang berbeda, dan cara tersebut bukan memberikan keuntungan secara kesehatan terhadap bangsa ini, namun memberikan momok penyakit baru yang sangat menurunkan kualitas kehidupan. Indonesia saat ini menjadi negara no.4 tertinggi penderita diabetes seluruh dunia, dan berpotensi menjadi no.1 pada tahun 2030. 
http://www.tribunnews.com/2012/12/20/indonesia-berisiko-jadi-juara-penyakit-diabetes-terparah-dunia-tahun-2030
http://www.pdpersi.co.id/content/news.php?mid=5&nid=618&catid=23
http://indodiabetes.com/data-statistik-jumlah-penderita-diabetes-di-dunia-versi-who.html



Bagaimana solusi yang tepat untuk permasalahan ini? Sangat sederhana, yaitu menjaga kualitas gizi beras yang akan kita makan. Nutrisi ini terkandung dalam BERAS EMBRIO. 



Beras Embrio adalah beras yang mempertahankan embrio namun melepas lapisan luar lainnya. Embrio membentuk hanya 3% dari gabah tetapi dengan 66% dari nutrisi beras, yang pada dasarnya merupakan jiwa dari beras. Beras ini kaya akan vitamin B kompleks, serat, biotin, mikro mineral dan lainnya. Beras ini juga membantu untuk mengurangi terjadinya hipertensi, sembelit, diabetes dan kanker. Rasanya enak, mudah dimasak, mudah dicerna dan mudah diserap. Melalui Embryo Rice Machine, saat ini beras embrio dapat didapatkan dengan mudah sehingga telah banyak dikonsumsi di Jepang, Korea, dan negara-negara maju lainnya. 

klik disini SOLUSI MAKAN BERAS SEHAT



MANFAAT BERAS EMBRIO
  1. Membantu menghilangkan racun tubuh dan penyerapan nutrisi.
  2. Memupuk bakteri yang baik.
  3. Pembentukan vitamin.
  4. Membersihkan darah, meningkatkan metabolisme, dan memperkuat kesehatan tubuh.
  5. Menyembuhkan susah buang air besar.
  6. Mengurangi tekanan di dalam usus.
  7. Beras embrio yang sudah dimasak rasanya enak.
  8. Bermanfaat untuk penderita diabetes dan obesitas.
  9. Mengatur kadar nitrogen dan glukosa dalam darah.
  10. Menyerap mikro nutrisi secara efektif.
  11. Mengatur dan meningkatkan kinerja pencernaan dan otak.
  12. Mengatur kinerja saraf dan meningkatkan kekebalan tubuh.
  13. Sumber yang kaya akan vitamin E meningkatkan sirkulasi darah.


PERBANDINGAN NUTRISI 
BERAS PUTIH vs BERAS EMBRIO

NutrisiBeras
 Embrio
Beras Putih
Kalsium3817Membersihkan darah, membentuk tulang.
Fosfor332SedikitBagian penting dari otak, meningkatkan daya ingat.
Zat Besi2Hampir Tidak AdaMencegah anemia, membangun sel-sel darah merah, dan memperkuat tulang.
Magnesium75SedikitMemperkuat sel-sel tulang.
Vitamin B1120-50054Kekurangan Vitamin B1 dapat menyebabkan mati rasa pada kaki, kelelahan, fungsi otak yang memburuk.
Vitamin B126633Kekurangan Vitamin B12 dapat menyebabkan sariawan pada mulut dan lidah.
Vitamin B51520750Meningkatkan fungsi otak, kekurangan Vitamin B5 dapat menyebabkan penyakit kulit.
Asam Folat2016Kekurangan Asam Folat dapat menyebabkan anemia dan penurunan sel darah putih.
Vitamin B662037Banyak ditemukan pada bakteri, ragi, dapat menyembuhkan kondisi asam.
Vitamin K10.0001.000Kekurangan Vitamin K dapat mempersulit pembekuan darah.
Vitamin LSedikitTidak AdaKekurangan Vitamin L dapat menyebabkan penurunan produksi susu.
Vitamin ESedikitTidak adaKekurangan Vitamin E dapat menyebabkan infertilitas, kelemahan pada pria.
Asam Taro4.1001.000Kekurangan Asam Taro dapat menyebabkan penyakit kulit, pneumonia, diare, nyeri saraf.
Biotin128Kekurangan Biotin dapat menyebabkan kerontokan dan menghambat mobilitas.
Inositol12.400114Mengatur pergerakan usus.
Serat1.000300Membantu buang air besar, menghilangkan impaksi tinja.




Bagaimana kita dapat mendapatkan beras embrio? Ternyata cara mendapatkan beras embrio telah diketahui bangsa Jepang sejak 50 tahun yang lalu.  Seperti kita ketahui, Jepang adalah negara dengan umur terpanjang di dunia dalam rata-rata. Studi baru menunjukkan bahwa rentang umur masyarakat Jepang untuk laki-laki mencapai 81 tahun sedangkan wanita mencapai 86 tahun. Alasan utama untuk hal ini adalah masyarakat Jepang mengkonsumsi beras embrio segar setiap hari.


Di Jepang, harga beras embrio mencapai 25 kali lebih mahal dibandingkan harga beras biasa. Di Jepang, restoran-restoran menyajikan setiap mangkuk nasi dengan harga 600 yen, sekitar Rp. 65000, tetapi tambahan makanan kecil disajikan secara gratis. Oleh karena itu, kita dapat melihat bahwa diet beras yang segar memberikan nutrisi yang seimbang di Jepang, yang pada dasarnya merupakan penyebab utama untuk panjangnya rentang umur di kalangan masyarakat Jepang.


Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita makan hidangan laut yang segar, kita bergegas ke pasar setiap pagi untuk sayuran-sayuran segar. Alasananya adalah makanan yang segar mempertahankan nutrisi dengan baik dan memiliki rasa jauh lebih enak. Tidakkah Anda berpikir bahwa makanan pokok kita sehari-hari (beras) juga harus segar? Ya, kita memerlukan beras segar supaya dapat tetap sehat dan berumur panjang. 



Cara tradisional mengkonsumsi beras membutuhkan beras padi yang ditekan, diperas, digiling, dikuliti, penyimpanan lebih lanjut, dan dikirim sebelum mencapai meja makan kita. Beberapa pedagang yang tidak etis bahkan membeli beras busuk untuk didaur ulang lalu dipasarkan kembali. Minyak industry seperti pemutih, pewangi, dan pewarna ditambahkan untuk membuat beras busuk terlihat baru. Beras busuk mengandung tingkat aflatoksin yang tinggi dan dapat menyebabkan kanker pada berbagai organ tubuh. Peningkatan kanker, diabetes, dan berbagai penyakit kronis pada beberapa tahun terakhir adalah buktinya.



Cara modern mengkonsumsi beras tidak berbeda dengan cara tradisional namun tidak menggunakan tenaga manusia untuk menekan, memeras, menggiling,menguliti dan menyimpan. Semua dapat diproses dengan penemuan mesin beras embrio. Mesin melakukan semua proses untuk menghasilkan beras embrio segar yang tetap aman dan bergizi untuk dikonsumsi sekaligus sesuai dengan gaya hidup modern yang praktis.




Setelah menganalisa semua informasi di atas, mari kita bertanya pada diri kita : 

Apakah kita masih tega
mengkonsumsikan beras putih kepada keluarga?

Apakah kita akan terus mengajarkan
kebiasaan makan beras putih pada anak kita?

Apakah kita tetap memulai
sendokan pertama bubur beras putih pada bayi kita?

Apakah kita tetap akan menyodorkan
racun-racun kimiawi kepada keluarga kita?

Apakah kita yang telah tahu informasi ini

hanya diam dan tidak bertindak?



......dan suatu saat ketika keluarga kita 
terkena diabetes, kanker, kolesterol, darah tinggi, dll 


...introspeksi diri kita,siapakah sebenarnya 

yang telah perlahan-lahan "membunuh"nya?









Beras adalah MAKANAN POKOK. Setiap hari kita makan nasi yang berasal dari beras. Mengurangi makan nasi putih bukanlah solusi yang mudah , bahkan bagi orang yang sudah terjangkit penyakit mematikan.  



Banyak sekali orang yang tidak bisa menikmati makan nasi karena alasan sakit, dan hal ini membuat mereka sangat menderita, KARENA SEJAK AWAL MENGENAL MAKANAN PADAT , RASA BERAS YANG PERTAMA KALI MELEKAT DI LIDAH KITA, disuapkan oleh ibunda tercinta.










PERTAMA KALI HADIR DI INDONESIA

SUGAWA Mesin Beras Embrio mengubah sekam, bekatul, dan lapisan aleuron dari beras mentah ke dalam bentuk bekatul bertepung serta bagian endosperm dan embrio menjadi beras embrio sehingga dapat mempertahankan nutrisi alami dari beras tersebut. Dengan teknik ini, kami dapat meningkatkan kualitas dan efisiensi, serta meminimalkan pembuangan. Beras ini aman dikonsumsi dan seluruh proses penggilingan beras ini ramah lingkungan. Anda dapat menikmati rasa beras putih dengan nutrisi beras merah.

Informasi detail tentang Beras Embrio



10 KEUNGGULAN SEMPURNA

MESIN BERAS EMBRIO SUGAWA


  1. Kecepatan Tinggi: Menghasilkan beras embrio hingga lebih dari 500 gram per menit. 
  2. Elegan: bergaya Jepang dan berdesain modern. 
  3. Praktis: Mudah digunakan. 
  4. Higenis: Mudah dibersihkan dan dirawat. 
  5. Tahan Lama: Motor tanpa sikat yang berumur panjang. 
  6. Aman: Memiliki alat pengontrol otomatis untuk perlindungan terhadap suhu terlalu tinggi. 
  7. Lancar: Memproduksi beras embrio dengan stabil. 
  8. Advance: Desain pisau beras yang unik untuk pemasangan maupun sebaliknya. 
  9. Outstanding: Bahan anti bakteri inframerah untuk pisau beras dan penyimpanan. 
  10. Kuat: Penutup atas, wadah beras, dan wadah bekatul yang kuat.

GARANSI 1 TAHUN, ONGKOS KIRIM GRATIS

klik untuk BELI SEKARANG

Wednesday, December 4, 2013

Fakta Susu Sapi



Susu Sapi

Susu sapi proses ekstrim yang mengalami susu, serta jumlah tinggi antibiotik, hormon, dan zat genetik dimodifikasi bahwa sapi terus-menerus terpapar, saya dapat, dengan kepastian yang banyak, mengatakan bahwa ada bahaya nyata dan terkemuka yang terkait dengan minum susu dari sapi. Semua sapi melepaskan racun melalui air susu mereka, karena susu merupakan pintu keluar portal-alam untuk zat yang tubuh tidak dapat digunakan.



Daftar “Bahan” Ditambahkan ke Susu Sapi
Berikut adalah beberapa komponen buatan-rekayasa ditemukan di kaca rata-rata susu yang dipasteurisasi dan dihomogenisasi non organik di meja makan Amerika:

- Sebuah Cocktail Veritable Hormon: termasuk hormon hipofisis, steroid, hipotalamus, dan tiroid (ingat sapi paling sangat stres)
- Gastrointestinal Peptides: Saraf dan faktor pertumbuhan epidermal, dan pertumbuhan inhibitor MDGI dan MAF
- rBGH (Hormon Pertumbuhan rekombinan Bovine): hormon rekayasa genetika langsung berhubungan dengan kanker payudara, usus besar dan prostat. Hal ini disuntikkan ke sapi untuk meningkatkan produksi susu [1].
- Nanah: rata-rata nasional menunjukkan sedikitnya 322 juta sel-tuduhan nanah per gelas [2] Ini adalah baik di atas batas manusia untuk nanah asupan, dan telah langsung berhubungan dengan bakteri paratuberculosis, serta penyakit Crohn!. Nanah berasal dari ambing yang terinfeksi pada sapi yang dikenal sebagai mastitis.
- Sel Darah:. USDA memungkinkan hingga 1,5 juta sel darah putih per mililiter susu yang biasa dijual [3] Ya, Anda minum darah sapi dalam susu dan USDA memungkinkan ini!
- Antibiotik: Saat ini, sapi dalam keadaan penyakit dan penganiayaan bahwa mereka terus-menerus disuntik dengan obat-obatan antibiotik, dan menggosok bawah dengan kimia-sarat salep untuk menangani infeksi kronis mereka. Saat ini, komite yang mengatur hanya menguji 4 dari 85 obat pada sapi perah. Ini berarti bahwa 81 obat lain dalam susu sapi yang datang langsung ke kacamata Anda dan tubuh. Estimasi menunjukkan bahwa 38% susu di AS “terkontaminasi dengan obat sulfa atau antibiotik lainnya,” menurut sebuah studi oleh Pusat Ilmu Pengetahuan untuk Kepentingan Umum dan diterbitkan dalam Wall Street Journal pada tanggal 29 Desember 1989. Sebuah studi dari data FDA menunjukkan bahwa lebih dari setengah dari semua susu adalah sarat dengan jejak obat-obatan namun tidak ada yang dilakukan untuk mengontrol ini.


Bagaimana Hal ini Mempengaruhi Sapi?

Selanjutnya, tidak hanya orang minum racun ini, kami juga mengambil dalam efek energik kehidupan sapi.

Studi menunjukkan bahwa banyak sapi terinfeksi dengan infeksi inflamasi sangat menyakitkan seperti mastitis. Karena over-memerah susu, hormon buatan, bakteri dan obat-obatan, ambing sapi dapat menjadi kronis meradang, sehingga mengubah warna dan rasa susu.

Seiring waktu, ini invasi bakteri menyebabkan kerusakan pada kelenjar susu sapi, berbau malapetaka pada susu yang dihasilkan. Dari cacing parasit untuk tumor kanker, penyakit ini sering diteruskan kepada generasi berikutnya sapi, dan lebih sering, ke dalam susu yang kita minum.

Bahkan lebih, kondisi di mana sapi hidup, serta rezim memerah susu ketat, menyebabkan sapi perah untuk hidup dalam keadaan permanen simpatik (stres) respon, serta adrenal berlebihan beban. Ketika kelenjar adrenalin kita terlalu banyak bekerja untuk jangka waktu yang lama, ada kelebihan kortisol dalam darah. Ketika kita minum susu ini, kita kemudian terkena jutaan stres-respon sel-sel dalam susu sapi. Hal ini tidak mengherankan bahwa kita adalah masyarakat yang kronis-stres!
Cara Hindari Bahaya Terkait dengan Susu Sapi

Sebagai kesimpulan, mungkin ide yang baik untuk beristirahat pembersihan dari susu. Berikut adalah beberapa cara untuk menghindari bahaya yang terkait dengan susu sapi:

Ganti susu sapi dengan pengganti alami yang sehat: susu beras, susu almond, susu kambing mentah atau favorit saya – susu rami.
Jika Anda bersikeras untuk minum susu sapi, pastikan untuk membeli hanya non-rekayasa genetika, berbagai makan, versi baku organik. Bahkan lebih baik, berbicara dengan petani lokal organik Anda untuk memastikan sapi yang diperlakukan dengan baik.

sumber : apotekherbal.com

Susu Sapi "Terlalu Asin" Buat Bayi


SHUTTERSTOCK Ilustrasi bayi minum susu


KOMPAS.com – Sejumlah ahli gizi memeringatkan, bayi yang berumur di bawah satu tahun tidak direkomendasikan untuk meminum susu sapi. Pasalnya, dalam susu sapi terkandung kadar garam yang terlalu tinggi untuk bayi sehingga hal tersebut bisa berdampak buruk untuk kesehatan buah hati.

Menurut hasil penelitian, susu sapi empat kali lebih asin jika dibandingkan dengan Air Susu Ibu. Sehingga, apabila susu sapi diberikan pada bayi yang belum berumur 12 bulan (1 tahun) cenderung akan memiliki diet garam yang tinggi.

Dr Pauline Emmett dan Vicky Cribb, ahli gizi dari Universitas Bristol Inggris menemukan, sekitar 7 dari 10 bayi di Inggris terlalu banyak mengonsumsi garam dalam makanan mereka. Studi ini dipublikasikan dalam European Journal of Clinical Nutrition, di mana melibatkan 1.200 bayi berusia 8 bulan yang lahir pada tahun 1991 atau 1992.

Hasilnya diketahui bahwa, dalam 100 ml susu sapi mengandung 55 mg garam. Kandungan tersebut ternyata hampir empat kali lebih banyak dibandingkan ASI. Dalam setiap 100 ml ASI hanya mengandung 15 mg garam. Sedangkan pada 100 ml susu formula hasilnya bervariasi, mulai dari 15-30mg garam.

Pada bayi yang mengonsumsi 700 ml susu sapi setiap harinya akan mendapatkan 385 mg garam dari sumber itu saja. Asupan ini rupanya hampir memenuhi setengah dari asupan maksimum yang disarankan pada bayi berumur satu tahun.

Para peneliti memperingatkan, "temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi garam perlu dikurangi secara substansial pada anak-anak dari kelompok usia ini.”

"Bayi membutuhkan makanan yang khusus dipersiapkan untuk mereka tanpa ditambahkan garam, sehingga sangat penting dalam adaptasi diet keluarga. Diperlukan saran yang jelas untuk orang tua tentang makanan apa yang cocok untuk bayi,” jelasnya.

Lebih lanjut, peneliti mengatakan, "hal ini harus diinformasikan kepada semua orang tua dan wali, dan mereka harus dinasihati untuk tidak menggunakan susu sapi sebagai minuman utama sebelum usia 12 bulan,” tegasnya.

Memberikan terlalu banyak garam dalam makanan bayi dapat mendorong keinginan mereka untuk terus mengonsumsi garam dalam jumlah yang tinggi kedepannya, sehingga dapat menyebabkan masalah kesehatan.

Para ahli menegaskan, mengonsumsi terlalu banyak garam bisa meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Selain itu, pemberian garam terlalu banyak untuk anak kecil juga dapat merusak ginjal mereka. Departemen Kesehatan di Inggris menganjurkan untuk menghindari pemberian susu sapi pada bayi di bawah usia satu tahun.

Penulis : Bramirus Mikail | Selasa, 2 Agustus 2011 | 16:13 WIB
Sumber : health.kompas.com
Editor :Asep Candra























Sunday, July 21, 2013

Mengenal Manfaat Beras Pecah Kulit

beras pecah kulit
Beras putih biasanya telah mengalami proses selep atau penggilingan yang berulang kali, hingga menghasilkan beras yang warnanya putih bersih. Sedangkanberas pecah kulit, atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai brown rice, hanya mengalami proses pengelupasan gabah atau kulit luar saja.
Beda dari brown rice atau beras pecah kulit dengan beras putih biasa adalah kandungan mineral dan vitaminnya. Beras pecah kulit masih menyimpan kandungan gizi yang lebih banyak 80% dibanding beras putih.
Sedangkan beras putih yang mengalami berkali-kali proses penggilingan akan kehilangan nilai gizinya hingga 80% dan hanya mengandung karbohidrat saja.
Manfaat yang dikandung oleh beras pecah kulit pun jauh lebih banyak. Seperti dilansir oleh situs Boldsky, berikut ini diantaranya:
  • Jantung sehat
Kandungan serat dalam beras pecah kulit sangat tinggi. Lapisan ekstra jaringan di sekitar beras yang berwarna coklat tersebut membantu mengontrol peningkatan aterosklerosis dan tekanan darah sehingga bermanfaat mencegah penyakit jantung dan kardiovaskuler.
  • Anti oksidan
Beras sebenarnya punya kandungan antioksidan tinggi, seperti juga strawbery dan blueberry. Sayangnya, jika proses penggilingan diteruskan, maka antioksidan tersebut akan hilang.
  • Kanker kolon/usus besar
Resiko kanker kolon atau kanker usus besar dapat ditekan dengan konsumsi beras pecah kulit. Ini karena kandungan fenol yang cukup tinggi, sehingga proses pencernaan dalam usus besar menjadi lebih sehat.
  • Kanker payudara
Beras ini mempunyai Pytonutrient Lignin yang bermanfaat mencegah kanker payudara yang biasanya menyerang kaum wanita.
Masih ada lebih banyak lagi manfaat mengonsumsi beras pecah kulit atau brown rice, sehingga sayang sekali bila dalam proses penggilingan beras putih semua zat bermanfaat itu terbuang
Sumber : sidomi.com


Tanaman Padi


Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting di dalam kehidupan manusia. Tanaman ini mengacu pada jenis tanaman budidaya, namun juga memiliki beberapa jenis marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar.Di tingkat dunia, produksi padi menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Dan bagaimanapun juga, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia, yang hasil dari pengolahan padi kita sebut beras. Istilah yang sangat tidak asing bagi penduduk negara Indonesia.
Kerajaan:Plantae
Divisi: Magnoliophyta
(tidak termasuk)Monocots
(tidak termasuk)Commelinids
Ordo: Poales
Famili: Poaceae
Genus: Oryza
Spesies:Oryza sativa
Padi termasuk dalam suku padi-padian atau Poaceae (sinonim: Graminae atau Glumiflorae).

Ciri2 Umum Tanaman
Padi: merupakan tanaman semusim; akar serabut; batang sangat pendek; struktur serupa batang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang; daun sempurna dengan pelepah tegak; daun berbentuk lanset; warna hijau muda hingga hijau tua; berurat daun sejajar; tertutupi oleh rambut yang pendek dan jarang; bunga tersusun majemuk, tipe malai bercabang; satuan bunga disebut floret; yang terletak pada satu spikelet yang duduk pada panikula; buah tipe bulir atau kariopsis yang tidak dapat dibedakan mana buah dan bijinya; bentuk hampir bulat hingga lonjong; ukuran 3 mm hingga 15 mm; tertutup oleh palea dan lemma yang dalam bahasa sehari-hari disebut sekam; struktur dominan adalah endospermiumyang biasa kita konsumsi dalam wujud beras .
Penyebaran dan adaptasi
Padi budidaya diperkirakan berasal dari daerah lembah Sungai Gangga dan Sungai Brahmaputra dan dari lembah Sungai Yangtse. Di Afrika, padi Oryza glaberrima ditanam di daerah Afrika barat tropika.Padi pada saat ini tersebar luas di seluruh dunia dan tumbuh di hampir semua bagian dunia yang memiliki cukup air dan suhu udara cukup hangat. Padi menyukai tanah yang lembab dan becek. Sejumlah ahli menduga, padi merupakan hasil evolusi dari tanaman moyang yang hidup di rawa. Pendapat ini berdasar pada adanya tipe padi yang hidup di rawa-rawa (dapat ditemukan di sejumlah tempat di Pulau Kalimantan), kebutuhan padi yang tinggi akan air pada sebagian tahap kehidupannya, dan adanya pembuluh khusus di bagian akar padi yang berfungsi mengalirkan oksigen ke bagian akar.
Reproduksi
Tiap bunga padi memiliki enam kepala sari (anther) dan kepala putik (stigma) bercabang dua berbentuk sikat botol. Kedua organ seksual ini umumnya siap reproduksi dalam waktu yang bersamaan. Kepala sari kadang-kadang keluar dari palea dan lemma jika telah masak. Dari segi reproduksi, padi merupakan tanaman berpenyerbukan sendiri, karena 95% atau lebih serbuk sari membuahi sel telur tanaman yang sama. Setelah pembuahan terjadi, zigot dan inti polar yang telah dibuahi segera membelah diri. Zigot berkembang membentuk embrio dan inti polar menjadi endospermia. Pada akhir perkembangan, sebagian besar bulir padi mengadung pati di bagian endospermia. Bagi tanaman muda, pati berfungsi sebagai cadangan makanan.
Genetika, dan perbaikan varietas
Satu set genom padi terdiri dari 12 kromosom. Karena padi adalah tanaman diploid, maka setiap sel padi memiliki 12 pasang kromosom (kecuali sel seksual).Padi merupakan organisme model dalam kajian genetika tumbuhan karena dua alasan: kepentingannya bagi umat manusia dan ukuran kromosom yang relatif kecil, yaitu 1.6~2.3 × 108 pasangan basa (base pairs, bp) (Sumber: situs Gramene.org). Sebagai tanaman model, genom padi telah disekuensing, seperti juga genom manusia. Hasil sekuensing genom padi dapat dilihat di situs NCBI.Pemuliaan padi telah berlangsung sejak manusia membudidayakan padi. Dari hasil tindakan ini orang mengenal berbagai macam ras lokal padi, seperti rajalele dari Klaten atau cianjur pandanwangi dari Cianjur. Orang juga berhasil mengembangkan padi lahan kering (padi gogo) yang tidak memerlukan penggenangan atau padi rawa, yang mampu beradaptasi terhadap kedalaman air rawa yang berubah-ubah. Di negara lain dikembangkan pula berbagai tipe padi (lihat bagian Keanekaragaman padi).
Namun demikian, pemuliaan padi secara sistematis baru dilakukan sejak didirikannya IRRI di Filipina. Sejak saat itu, berbagai macam tipe padi dengan kualitas berbeda-beda berhasil dikembangkan secara terencana untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia.Pada tahun 1960-an pemuliaan padi diarahkan sepenuhnya pada peningkatan hasil. Hasilnya adalah padi ‘IR5′ dan ‘IR8′ (di Indonesia diadaptasi menjadi ‘PB5′ dan ‘PB8′). Walaupun hasilnya tinggi tetapi banyak petani menolak karena rasanya tidak enak (pera). Selain itu, terjadi wabah hama wereng coklat pada tahun 1970-an. Puluhan ribu persilangan kemudian dilanjutkan untuk menghasilkan kultivar dengan potensi hasil tinggi dan tahan terhadap berbagai hama dan penyakit padi. Pada tahun 1984 Indonesia pernah meraih penghargaan dari PBB (FAO) karena berhasil meningkatkan produksi padi hingga dalam waktu 20 tahun dapat berubah dari pengimpor padi terbesar dunia menjadi negara swasembada beras. Prestasi ini, sayangnya, tidak dapat dilanjutkan. Saat ini Indonesia kembali menjadi pengimpor padi terbesar di dunia.Hadirnya bioteknologi dan rekayasa genetika pada tahun 1980-an memungkinkan perbaikan kualitas nasi. Sejumlah tim peneliti di Swiss mengembangkan padi transgenik yang mampu memproduksi toksin bagi hama pemakan bulir padi dengan harapan menurunkan penggunaan pestisida.
IRRI bekerja sama dengan beberapa lembaga lain, merakit “padi emas” (golden rice) yang dapat menghasilkan pro-vitamin A pada berasnya, yang diarahkan bagi pengentasan defisiensi vitamin A di berbagai negara berkembang. Suatu tim peneliti dari Jepang juga mengembangkan padi yang menghasilkan toksin bagi bakteri kolera[1]. Diharapkan beras yang dihasilkan padi ini dapat menjadi alternatif imunisasi kolera, terutama di negara-negara berkembang.Sejak penghujung abad ke-20 dikembangkan padi hibrida, yang memiliki potensi hasil lebih tinggi. Karena biaya pembuatannya tinggi, kultivar jenis ini dijual dengan harga lebih mahal daripada kultivar padi yang dirakit dengan metode lain.Selain perbaikan potensi hasil, sasaran pemuliaan padi mencakup pula tanaman yang lebih tahan terhadap berbagai organisme pengganggu tanaman (OPT) dan tekanan (stres) abiotik (seperti kekeringan, salinitas, dan tanah masam). Pemuliaan yang diarahkan pada peningkatan kualitas nasi juga dilakukan, misalnya dengan perakitan kultivar mengandung karoten (provitamin A).
Keanekaragaman genetik
Sampai saat ini ada dua spesies padi yang dibudidayakan manusia secara massal, yaitu Oryza sativa yang berasal dari Asia dan O. glaberrima yang berasal dari Afrika Barat.Pada awal mulanya O. sativa dianggap terdiri dari dua subspesies, indica dan japonica (sinonim sinica). Padi japonicaumumnya berumur panjang, postur tinggi namun mudah rebah, lemmanya memiliki “ekor” atau “bulu” (Ing. awn), bijinya cenderung membulat, dan nasinya lengket. Padi indica, sebaliknya, berumur lebih pendek, postur lebih kecil, lemmanya tidak ber-”bulu” atau hanya pendek saja, dan bulir cenderung oval sampai lonjong. Walaupun kedua anggota subspesies ini dapat saling membuahi, persentase keberhasilannya tidak tinggi. Contoh terkenal dari hasil persilangan ini adalah kultivar ‘IR8′, yang merupakan hasil seleksi dari persilangan japonica (kultivar ‘Deegeowoogen‘ dari Formosa) dengan indica (kultivar ‘Peta’ dari Indonesia). Selain kedua varietas ini, dikenal varietas minor javanica yang memiliki sifat antara dari kedua tipe utama di atas. Varietas javanica hanya ditemukan di Pulau Jawa.
Kajian dengan bantuan teknik biologi molekular sekarang menunjukkan bahwa selain dua subspesies O. sativa yang utama, indica dan japonica, terdapat pula subspesies minor tetapi bersifat adaptif tempatan, seperti aus(padi gogo dari Bangladesh), royada (padi pasang-surut/rawa dari Bangladesh), ashina (padi pasang-surut dari India), dan aromatic (padi wangi dari Asia Selatan dan Iran, termasuk padi basmati yang terkenal). Pengelompokan ini dilakukan menggunakan penanda RFLP dibantu dengan isozim.  Kajian menggunakan penanda genetik SSR terhadapgenom inti sel dan dua lokus pada genom kloroplas menunjukkan bahwa pembedaan indica dan japonica adalah mantap, tetapi japonica ternyata terbagi menjadi tiga kelompok khas: temperate japonica (“japonica daerah sejuk” dari Cina, Korea, dan Jepang), tropical japonica (“japonica daerah tropika” dari Nusantara), dan aromatic. Subspesies aus merupakan kelompok yang terpisah. Berdasarkan bukti-bukti evolusi molekular diperkirakan kelompok besar indica dan japonica terpisah sejak ~440.000 tahun yang lalu dari suatu populasi spesies moyang O. rufipogon. Domestikasi padi terjadi di titik tempat yang berbeda terhadap dua kelompok yang sudah terpisah ini. Berdasarkan bukti arkeologi padi mulai dibudidayakan (didomestikasi) 10.000 hingga 5.000 tahun sebelum masehi.

Keanekaragaman Budidaya Padi
Padi Gogo
Di beberapa daerah tadah hujan orang mengembangkan padi gogo, salah satu tipe padi lahan kering yang relatif toleran tanpa penggenangan air seperti di sawah. Wilayah Lombok mengembangkan sistem padi gogo rancah, yang memberikan penggenangan dalam selang waktu tertentu sehingga hasil padi meningkat.
Pengolahan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Gogo
1. Penyiapan lahan
Pengolahan tanah dilakukan pada musim kemarau menjelang datangnya musim hujan.• Pengolahan tanah diperlukan untuk menciptakan kondisi tumbuh yang baik. Pada tanah datar sampai kemiringan kurang dari 5%, pengolahan tanah dicangkul (bajak) 2 kali dan satu kali garu.• Pada lahan dengan kemiringan lebih dari 15%, pengolahan tanah sederhana (minimum tillage) atau tanpa olah tanah (TOT).
2. Pemilihan varietas
Pemilihan varietas padi gogo didasarkan pada : 1) kesesuaian terhadap lingkungan tumbuh (ketinggian dan iklim), 2) umur tanaman berkaitan dengan curah hujan dan pola tanam, 3) ketahanan hama penyakit dan 4) produktivitas.• Pilihan varietas adalah: situ gintung, gajah mungkur, kalimutu, way rarem, jatiluhur, cirata,towuti, limboto, danau gaung, batu tegi, situ patenggang dan situ bagendit.
3. Tanam
Penanaman dilakukan pada awal musim hujan (Oktober – November) bila terdapat 1 – 3 hari hujan berturut-turut dengan curah hujan 21 mm/minggu. • Tanam sistim alur, lahan yang telah dipersiapkan dibuat alur sedalam 3-4 cm dengan jarak antara alur 20-25 cm. Benih disebar secara diicir, kemudian alur ditutup kembali dengan tanah.• Sistem tanaman tugal dengan kedalaman 3-5 cm dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm, kemudian 2 – 3 butir benih dimasukkan ke dalam setiap lubang tanam dan ditutup kembali dengan tanah.• Kebutuhan benih 30 – 50 kg/ha.• Apabila kelembaban tanah cukup, benih sebaiknya direndam sekitar 24 jam
4. Pemupukan
Dosis pupuk yang diberikan disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah.• Dosis pupuk N berkisar 300-400 kg urea/ha yang diberikan 2 atau 3 kali, yaitu 1/3 bagian pada pada umur 15 hari, 1/3 bagian pada stadia anakan ( 30-40 hari setelah sebar), 1/3 bagian pada saat menjelang primordia (50-60 hari setelah sebar) atau 1/3 bagian pada stadia anakan dan 2/3 bagian pada saat menjelang primordia.• Pupuk Fosfor (P) dan Kalium (K) diberikan pada saat tanam, dengan dosis 100-150 kg SP-36/ha dan 100 kg KCI/ha.• Pupuk kandang dengan dosis sekitar 5 ton/ha, diberikan pada saat pengolahan tanah
5. Pengendalian gulma
Penyiangan dilakukan seawal mungkin.• Penyiangan pertama dilakukan pada umur 14-21 hari setelah sebar (HSS) dan penyiangan kedua pada umur 35-40 HSS.• Penyiangan secara manual menggunakan cangkul atau kored, bila memungkinkan penyiangan dapat dibantu dengan penyemprotan herbisida (propanil).
6. Pengendalian Hama dan Penyakit
Beberapa hama dan penyakit utama yang menganggu pertanaman padi gogo, antara lain: blast, bercak daun, lalat bibit, tundi, wereng coklat, dan walang sangit. Penyakit blast disebabkan oleh jamur (Pyricularia oryzae), gejala serangan adalah bercak daun berbentuk belah ketupat, menyerang buku-buku dan malai, sehingga terjadi patah, batang atau busuk malai, pengendaliannya adalah sebagai berikut:• Pemupukan berimbang, hindarkan pemupukan N yang berlebihan, pupuk K dapat mengurangi keparahan serangan penyakit.• Menanan varietas toleran • Menggunakan fungisida
7. Panen dan Penanganan Hasil
Pemanenan tanaman dilakukan bila gabah telah menguning sekitar 90% atau pada umur 30-35 hari setelah berbunga tergantung varietas. • Perontokan menggunaaan alat perontok, minimal pedal tresher sederhana. Diusahakan kehilangan hasi sekecil mungkin dengan cara pengumpulan batang padi segera setelah disabit, pengangkutan dan tempat penyimpanan yang baik.• Gabah disimpan pada kadar air + 12 % (bila gabah digigit terasa keras dan berbunyi) dengan menggunakan wadah yang bersih dan bersih dan bebas hama.• Untuk mendapatkan mutu giling dan rendemen beras yang baik, diusahakan: (1) gabah harus seragam dan bersih, (2) gabah yang baru dikeringkan harus diangin-anginkan agar beras tidak pecah dan (3) sebelum digiling beras yang baru disimpan harus dijemur untuk menyeragamkan kadar airnya.

Padi Rawa
Padi rawa atau padi pasang surut tumbuh liar atau dibudidayakan di daerah rawa-rawa. Selain di Kalimantan, padi tipe ini ditemukan di lembah Sungai Gangga. Padi rawa mampu membentuk batang yang panjang sehingga dapat mengikuti perubahan kedalaman air yang ekstrem musiman.
Padi Rawa, Potensi Pengembangan Padi yang Menjanjikan
Pengembangan budi daya padi di lahan non irigasi perluditingkatkan. Lahan rawa merupakan salah satu lahannon irigasi yang berpotensi untuk dikembangkanterutama dengan komoditas padi. Lahan rawa diIndonesia tersebar pada empat pulau besar, yaituSumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Lahanrawa terdiri dari lahan pasang surut dan lahan lebak.Pemanfaatan lahan rawa pasang surut dan lebakuntuk usaha tani padi membutuhkan ketersediaanvarietas unggul yang mampu beradaptasi dengan baikpada lahan tersebut. Kendala utama peningkatanproduksi padi di lahan lebak adalah tata air.
Bila memasuki musim hujan, kondisi lahan lebak selalu tergenangair. Kedalaman genangan air sangat bervariasi, mulaidari beberapa cm hingga lebih dari satu meter. Kondisisebaliknya terjadi saat lahan lebak memasuki musimkemarau. Kendala lain yang dihadapi adalah kesuburantanah rendah, kemasaman tanah, keracunan dandefisiensi hara.Pengembangan budi daya padi juga menghadapihambatan berupa perubahan iklim global. Perubahan iklimglobal mengakibatkan adanya pergeseran musim sertaterjadinya iklim yang ekstrim, seperti terjadi kekeringandan kebanjiran. Untuk itu diperlukan varietas padi yangtoleran terhadap kondisi iklim yang ekstrim tersebut.Inovasi teknologi Varietas Unggul Baru (VUB) untukantisipasi perubahan iklim antara lain Inpara 1 sampaidengan Inpara 5. Untuk informasi Inpara lebih jelas klik link ini.
Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan cara pendekatan yang bersifat holistik sehingga dapat meningkatkan produktivitas maupun pendapatan petani karena lebih efektif dan lebih efisien serta sifatnya lumintu.
Pendekatan PTT
1. Memanfaatkan paket teknologi anjuran yang terdiri dari komponen komponen teknologi yang sinergis dan kompatibel sesamanya sehingga kalau diterapkan bisa lebih efisien dan lebih efektif untuk meningkatkan produksi padi rawa pasang surut
2. Pemilihan dan penerapan teknologi didasarkan pada pemecahan permasalahan setempat yang sedang dihadapi petani
3. Dengan PTT, input teknologi lebih efisien dalam peningkatan produksi padi sehingga pendapatan dan kesejahteraan petani bertambah
4. Kelestarian lingkungan lebih lumintu karena teknologi yang diterapkan lebih terkendali sehingga lebih ramah lingkungan.
Komponen Teknologi PTT
Berbeda halnya dengan sawah lahan irigasi, sawah lahan pasang surut mempunyai masalah yang sangat kompleks , sehingga keragaan pertumbuhan tanaman padi juga beraneka ragam, misalnya : daun padi mempunyai bercak kecil berwarna coklat (bercak karat) yang dimulai dari ujung daun, pertumbuhan dan pembentukan anakan tertekan, daun meruncing dan berwarna hijau gelap, perakaran kasar, jarang dan berwarna coklat gelap dan hasil padi rendah.

Keanekaragaman Tipe Beras beras-indonesia
Terdapat beberapa jenis beras. Pengkategorian tersebut antara lain:
Padi pera
Padi pera adalah padi dengan kadar amilosa pada pati lebih dari 20% pada berasnya. Butiran nasinya jika ditanak tidak saling melekat. Lawan dari padi pera adalah padi pulen. Sebagian besar orang Indonesia menyukai nasi jenis ini dan berbagai jenis beras yang dijual di pasar Indonesia tergolong padi pulen. Penggolongan ini terutama dilihat dari konsistensi nasinya
Ketan
Ketan (sticky rice), baik yang putih maupun merah/hitam, sudah dikenal sejak dulu. Padi ketan memiliki kadar amilosa di bawah 1% pada pati berasnya. Patinya didominasi oleh amilopektin, sehingga jika ditanak sangat lekat
Padi wangi
Padi wangi atau harum (aromatic rice) dikembangkan orang di beberapa tempat di Asia, yang terkenal adalah ras ‘Cianjur Pandanwangi’ (sekarang telah menjadi kultivar unggul) dan ‘rajalele’. Kedua kultivar ini adalah varietas javanica yang berumur panjang.Di luar negeri orang mengenal padi biji panjang (long grain), padi biji pendek (short grain), risotto, padi susu umumnya menggunakan metode silsilah. Salah satu tahap terpenting dalam pemuliaan padi adalah dirilisnya kultivar ‘IR5′ dan ‘IR8′, yang merupakan padi pertama yang berumur pendek namun berpotensi hasil tinggi. Ini adalah awal revolusi hijau dalam budidaya padi. Berbagai kultivar padi berikutnya umumnya memiliki ‘darah’ kedua kultivar perintis tadi.

Varietas Unggul Padi Baru
Varietas unggul merupakan salah satu komponen paket teknologi budidaya padi yang secara nyata dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Pada tahun 2008 Balai Besar Penelitian Tanaman Padi telah melepas 6 varietas INPARI (INPARI 1-6), dan 3 Varietas INPARA (INPARA 1-3).
Inbrida Padi Irigasi, atau lebih dikenal dengan INPARI adalah varietas-varietas unggul baru padi sawah yang cocok ditanam di lahan sawah irigasi, sedangkan Inbrida Padi Rawa (INPARA) adalah varietas-varietas unggul padi yang baik dibudidayakan pada kondisi lahan rawa, tahan terhadap rendaman, serta daya adaptasi pada kondisi lahan masam.
INPARI :
1. INPARI 1
Varietas ini dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 952/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008. Ciri-ciri varietas ini bentuk tanaman tegak, dengan tinggi tanaman 93 cm, jumlah anakan produktif mencapai 16 anakan, dan tekstur nasi pulen. Keunggulan varietas ini adalah ketahanan terhadap wereng batang coklat biotipe 2, serta agak tahan terhadap wereng coklat biotipe 3, selain itu varietas INPARI 1 mempunyai ketahanan terhadap penyakit Hawar Daun Bakteri, serta tahan rebah. Umur tanaman yang relatif pendek (108 hari) adalah keunggulan lain dari varietas ini. Yang paling penting dari suatu varietas unggul adalah potensi produksi yang cukup tinggi, rata-rata produksi varietas INPARI 17,32 ton/ha Gabah Kering Giling (GKG) serta mempunyai potensi produksi 10 ton/ha GKG.
2. INPARI 2
Varietas INPARI 2 termasuk golongan cere, dengan umur tanaman 115 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 85-95 cm, dengan jumlah anakan 15 anakan. Potensi hasil Varietas ini adalah 7,30 ton/ha dengan rata-rata hasil 5,83 ton/ha. Varietas ini cocok ditanam di ekosistem sawah dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl. Varietas INPARI 2 agak tahan terhadap hama wereng batang coklat, penyakit hawar daun bakteri, penyakit virus tungro. Varietas ini dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 951/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008.
3. INPARI 3
Varietas INPARI 3 cocok ditanam pada lahan irigasi dengan ketinggian sampai 600 m dpl. Varietas ini termasuk dalam golongan cere, dengan umur tanaman 110 hari. Potensi hasil varietas yang dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 953/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008 ini mencapai 7,52 ton/ha dengan rata-rata hasil 6,05 ton/ha. Varietas ini tahan terhadap hama wereng batang coklat dan agak tahan terhadap penyakit Hawar daun bakteri, dan penyakit virus tungro inokulum variasi 073, 013 dan 031.
4. INPARI 4
Tidak begitu berbeda dengan Varietas INPARllainnya, INPARI4 juga memiliki ketahanan terhadap ham a . wereng batang coklat, dan agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri, serta agak tahan penyakit virus tungro inokulum varian 073 dan 031. Potensi hasil 8,80 ton/ha dengan rata-rata hasil 6,04 ton/ha. Varietas ini termasuk dalam golongan cere dengan umur tanaman 115 hari, tinggi tanaman 95-105 cm, dan 16 jumlah anakan. Varietas INPARI4 dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 954/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17Juli 2008.
5. INPARI 5 MERAWU
Varietas INPARI 5 dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 955/Kpts/SR.120/7/2008 tanggal 17 Juli 2008. Varietas ini termasuk golongan cere, dengan umu! tanaman 115 hari, tinggi tanaman 100-105 cm, dan jumlah anakan 15 anakan. Varietas INPARI 5 agak rentan terhadap hama wereng batang coklat Biotipe I, 2, dan 3, tetapi varietas ini agak tahan terhac:lap penyakit hawar daun bakteri, dan penyakit virus tungro inokulum varian 073 dan 031. Padaumumnya varietas . INPARI 5 cocok ditanam pad a lahan irigasi dengan ketinggian sampai dengan 600 m dpl.
6. INPARI 6 JETE
Termasuk golongan cere indica dengan umur tanaman 118 hari, tinggi tanaman 100 cm, jumlah anakan 15 batang. INPARI 6 memiliki tekstur nasi sangat pulen dengan kadar amilosa 18 %. Potensi produksi varietas INPARI 6 produktivitas 8,60 ton/ha GKG; 12 ton/ ha GKG. Varietas ini tahan rebah, serta tahan terhadap hama wereng batang coklat biotipe 2 dan 3 serta tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain III, IV dan strain VIII. Varietas INPARI 6 JETE diiepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 956/ Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008.

INPARA
1. INPARA I
Varietas INPARA I termasuk dalam golongan Cere Indica, dengan umur tanaman 131 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 111 cm, jumlah anakan produktif varietas INPARA I dapat mencapai 18 anakan. Apabila ditanam pada kondisi lahan rawa lebak rata-rata hasil dapat mencapai 5,65 ton/ha, sedangkan apabila ditanam pada kondisi lahan rawa pasang surut rata-rata hasllnya lebih rendah yaitu 4,45 ton/ha. Varietas INPARA I memiliki potensi hasil cukup tinggi yaitu 6,47 ton/ha. Lahan rawa, baik rawa lebak maupun rawa pasang surut umumnya mengandung Fe dan Al cukup tinggi, kedua unsur ini apabila dalam kondisi banyak dapat menyebabkan keracunan pada tanaman. Varietas INPARA I memiliki toleransi keracunan Fe dan Al serta agak tahan terhadap serangan wereng batang coklat Biotipe 1 dan 2, serta tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri dan bias. Varietas ini cocok ditanam di daerah rawa lebak dan rawa pasang surut. Varietas INPARA I dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor. 957/ Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008.
2. INPARA 2
INPARA 2 merupakan varietas yang termasuk dalam golongan cere indica, varietas ini agak tahan terhadap wereng batang coklat Biotipe 2 serta tahan terhadap hawar daun dan blass, serta memiliki toleransi terhadap keracunan Fe dan Al. INPARA 2 baik ditanam pada lahan pasang surut dan lahan rawa lebak. Ciri dari varietas ini adalah umur tanaman 128 hari, bentuk tanaman tegak, ketahanan terhadap rebah sedang, tinggi tanaman 103 cm dengan jumlah anakan produktif mancapai 16 batang. Potensi hasil INPARA 2 mencapai 6,08 ton/ha dengan rata-rata hasil pada lahan rawa lebak 5,49 ton/ha, dan pada lahan rawa pasang surut 4,82 ton/ha. Varietas INPARA 2 dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor. 958/Kpts/SR.120/7!2008 tanggal 17Juli 2008.
3. INPARA 3
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor. 960/Kpts/SR.120/7I2008 Tanggal 17 Juli 2008 Varietas INPARA 3 dilepas. INPARA 3 agak toleran rendaman selama 6 hari pada fase vegetatif, agak toleran keracunan Fe dan Al, baik ditanam di daerah rawa lebak, rawa pasang surut potensial dan di sawah irigasi yang rawan terhadap banjir. Varietas INPARA 3 termasuk dalam golongan cere indica, tekstur nasi pera, dengan umur tanaman 127 hari, tinggi tanaman 108 cm, bentuk tanaman tegak, dengan jumlah anakan produktif 17 anakan. Potensi hasil INPARA 3 mancapai 5,6 ton/ha, dengan rata-rata hasil 4,6 ton/ ha GKG.
Peran Penyuluh Pertanian di lapangan. Berkaitan dengan telah dilepaskannya varietas baru tersebut, maka penyuluh pertanian perlu mencari tahu, mencoba, dan menginformasikan kepada petani varietas-varietas yang cocok dan menguntungkan di wilayah kerjanya.–end.
 sumber :http://padidankelapa.wordpress.com

SEBARKAN INFORMASI INI